Rumah kami sebetulnya tidak jauh dari pusat kota. Hanya wilayah itu tidak begitu terurus dengan baik oleh pemerintah daerah. Begitu omong kosong mahasiswa planologi pada saat bicara di depan dosen ketika memperjuangkan satu karya agung terakhir mereka selama duduk dibangku para intelektual negeri ini.
Surau itu berada tepat di sebelah rumah kami. Malam itu hari ke tiga ramadhan tahun ini. Entah kenapa buat saya ramadhan itu sendiri bukan sekedar kewajiban ritual agama. Lebih dari itu setiap kali ramadhan saya merasa teduh, tenang dan selalu terlindungi. Sebetulnya saya tidak bisa menjelaskan secara ilmiah dari mana datangnya perasaan itu di diri saya. Bahkan sewaktu kecil, saya tahu saya mengagumi kakak laki laki saya yang waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasar dan sudah berniat puasa. Ketika saya sudah mulai belajar berpuasa mungkin diawal usia saya berjumlah dua digit, setiap kali bulan itu datang saya merasa orang orang baik terlindungi. Saya tidak tahu bagaimana orang lain memaknai bulan ini. Saya juga tidak begitu pintar untuk menjelaskan makna pahala dan ampunan di bulan ini, tapi bagi saya bulan ini memang bulan suci. Tempat dan waktu turning point saya berada di ramadhan, tempat saya berefleksi diri, mencari tahu sebelah mana saya membuat DIA kecewa setahun terakhir dan bagi saya bulan ini juga waktu yang tepat buat berdiskusi dengan Tuhan tentang rencana yang saya inginkan selanjutnya.
Sebenarnya surau itu baru dibangun beberapa tahun terakhir, kira kira sewaktu saya ABG . Kecil sekali, mungkin hanya ber kapasitas 25 orang. Sewaktu hari biasa surau ini tampak seperti pameran buku computer di tengah para pelinting tembakau, sepi pengunjung. Mugkin hanya satu dua orang yang datang itupun pasti orang orang yang wajahnya dapat dideteksi dari jauh oleh TOA langgar. Tapi malam itu tampak ramai sekali orang yang berjajar menggunakan mukena, peci dan menjinjing sajadah. Saya berada di barisan paling belakang, baru saya sadari saya merindukan hal ini. Dua tahun terakhir karena kesibukan sebagai artis kemanusiaan ( saya lebih setuju disebut pekerja yang bergerak dibidang humanitarian ), banyak hal terlewatkan disini. Tempat ini sebetulnya tidak terlalu besar tapi sekarang saya tidak banyak mengenal anak anak kecil yang berdatangan dengan canda tawa mereka ( notabene waktu saya kecil, shalat tarawih adalah saat bercengkerama yang baik buat kami :p). Sekarang setiap melihat polah tingkah anak anak itu disaat tarawih ( yang membuat saya ingin menjitaknya), saya keheranan bertanya tanya dari mana datangnya anak anak aneh sebanyak ini ( bukti bahwa tingkat fertilitas didaerah ini tinggi? Padahal kami hidup berdesakan ) untung ada keponakanku yang kebetulan malam itu berada di samping, pertanyaan seperti siapa nama nya, kelas berapa, anak siapa dll lancar meluncur sembari menunggu jeda untuk bangun lagi.
Ritual puasa seharian tidak begitu penting bagi anak anak seperti saya dan teman teman waktu itu. Yang terpenting adalah buka puasa dengan jajanan segambreng yang telah kami kantongi untuk kami makan saat beduk mulai bergema. Selepas maghrib kami berjalan bersama menuju masjid ( saat itu belum ada musholla tersebut ). Saya lupa waktu itu apakah saya benar benar memaknai arti tarawih bersama ( semoga Tuhan tahu saat itu kami masih kecil :) ).
Kalo di tempat kami, saat sebelum puasa adalah saat berbelanja bago anak anak. Biasanya hari pertama puasa kami serombongan menuju pasar kota, karena disana pedagang dari berbagai penjuru menjual mainan aneka ragam. Kami rela bersepeda dini hari untuk membeli pecah belah modal kami bermain warung warungan. Pasar mainan seperti ini hanya dibuka setahun sekali menjelang puasa. Orang dikota kami menyambutnya « dugderan atau megeng’an ».
Kemudian yang paling khas dari puasa bagi kami adalah suara petasan di sana sini, saya paling benci adegan ini. Mulai dari yang cantik dan berwarna warni sampai yang berbunyi bunyian menakutkan ( untung sekarang pihak berwajib :p lebih tegas memberi larangan ). Sekarang saya memahami, itu semua bagian dari kesenangan di masa kanak kanak .
Menjelang sahur, kakak dan beberapa teman laki lakinya sudah stand by di depan jalan kampung yang memang tidak terlalu besar. Berbagai bekal mereka bawa, mulai dari kentongan, tutup panci, dandang dll. Mereka lebih mirip rombongan sirkus kota dari pada rombongn marching band sebenarnya. Kegiatan serombongan anak anak ini disebut “klotekan”. Kemudian mereka berkeliling kampung untuk membangunkan orang sahur sambil berteriak teriak bernyanyi. Kadang teriakan mereka relevan dengan tujuannya seperti ini : “ sahur sahur, sahur sahur!!”, Tapi kadang lagu pilihan mereka lebih seperti orang yang baru mengenal cinta ( kelakuannya sangat tidak masuk akal seringkali tidak rasional, tapi bahagia ) coba simak lagu yang mereka nyanyikan secara serempak ditengah malam dengan iringan musik apa adanya :”heli, guk guk guk, kemari guk guk guk ayo lari lari…..” he..??
Tapi malam ini, saya tidak terbangun lagi oleh suara anak anak laki yang berkeliling seperti dulu. Jaman berubah mungkin, mereka sudah sibuk dengan play station dan televisi yang menjual berbagai mimpi kanak kanak mereka, hingga malam terasa berat bagi mereka untuk membangunkan orang dewasa di tengah malam ramadhan.
2 komente:
wah...aku selalu memimpikan hal2 seperti yang mbak tulis ini, beruntung ya mbak masih bisa menikmati hal2 seperti itu.
Kalo di kampung halaman saya, puasa tidak pernah benar2 ada sesuatu yang istimewa...biasa saja.
Hmmmmmmmmm....indahnya ya
Dalam banyak hal, tidak hanya ramadhan, masa kecil itu masa yang amat sangat menyenangkan. Terlindungi dan cukup memikirkan kesusahan hari ini. Bisakah kita seperti mereka, yang mengatakan, 'kesusahan sehari biarlah untuk sehari, karena esok memiliki kesusahan sendiri'?
Kenapa ya, kita tidak bisa memaknai tidak hanya ramadhan, tapi hidup ini dari sudut pandang anak kecil? Yang percaya ada 'tangan-tangan yang lebih Berkuasa' yang akan membantu mereka, kapan saja. All we need to do is ask.
Ramadhan... dengan semua sudut pandang yang ada... semoga bisa membawa kita kembali seperti anak kecil, polos, tenang, percaya semua yang baik dan selalu berfikir positif
Posto një koment