e hënë, 13 gusht 2007

sudut pandang si ikun - bagian I: "kunjungan"

Panggil saya ikun. Yang dalam bahasa kami artinya bungsu. Kata mama saya mereka berharap saya adalah anak terakhir yang dilahirkannya setelah 6 kakak saya yang terdahulu. Sekunda begitu nama dalam buku raport saya. Sekarang umur saya menginjak 7 tahun “kira kira segitu” kata ibu imel, bidan desa yang kebetulan memang warga asli dari desa saya.
Desa saya sendiri berjarak sekitar 80 kilo meter dari kota, kata babah yang seringkali datang ke desa untuk mengambil pinang milik mamak dan beberapa tetangga yang lain. Tapi bukankah dia datang dengan truk pengangkut pinang itu sehingga cepat, tapi mungkin bisa sekitar tiga jam lebih kalau mamak naik angkutan desa ‘amanekat’ dan biayanya sekitar lima belas ribu rupiah. Cukup mahal pikirku, bahkan sangat mahal. Mungkin karena itulah, penduduk desa kami jarang ke kota.
Jalan ke kampungku juga tidak semulus kulit naekmuti – naekmuti[1] itu. Jalan yang diaspal hanya beberapa meter saja selebihnya kita harus lewat hutan dan jalan yang berbatu, juga cadas. “Orang hamil bisa keguguran nih kalau lewat sini..” begitu kata beberapa orang tamu yang berkunjung ke desa kami, tampaknya mereka tidak sama dengan kami, kulit mereka lebih putih, warna baju mereka juga sangat cerah kurasa orang dari desa saya tidak mungkin punya baju sebagus itu, gaya bahasa mereka juga tidak sama dengan kami, kadang mereka menyebut dirinya ‘gua’, “wah mereka pasti punya rumah di dalam gua pikir saya”.
Oh iya tamu itu ada beberapa orang, mereka melihat posyandu ( dimana ibuku menjadi kadernya ), juga melihat lihat embung [2] sambil tunjuk sana sini. Satu diantarnya memakai kacamata hitam, tinggi semampai dan berambut panjang lurus yang tetap di gerai.
Sepulang sekolah saya dan teman teman yang masih memakai seragam sekolah yang tidak lagi punya warna itu ( padahal saya baru memasuki tahun ke dua di sekolah itu ), kami mengintip beberapa tamu itu dirumah bapak desa. Mereka terlihat asik menikmati laru dan sopi[3]. Kami takut masuk karena mungkin mereka tidak suka dengan kami. Kami tidak pakai sepatu, rambut kami tidak pernah disisir, muka kami sudah menjadi coklat karena bermain di tanah, bahkan bere teman saya lagi ingusan ; seragam atasnya menjadi bernoda hijau kekuningan dan secercak kerak bekas ingus yang mongering di tangan kanannya tapi itu pun hidungnya masih meler warna hijau kental itu. Si stef dengan kulit hitam legamnya yang hanya membalut tulang saja duduk diujung sudut tempat kami mengintip, maklum dia memang agak lambat berpikir dan bermain. Lihat saja dia hamper tidak punya daging.. kata pak andre, fasilitator desa di desa kami "dia kurang gizi", ooohh, saya tau mungkin itu mengapa dia sering lambat dalam menjawab pertanyaan pak guru joshep.
Yorin yang mengintip kaca gelap mobil tamu tadi langsung teriak kepada kami “ wooi, ada gula gula di dalam!” kami semua langsung teriak kegirangan, sudah lama gigi saya yang hitam hitam ini tidak bercumbu dengan gula gula. Terakhir sejak pak andre fasilitator desa dari keuskupan kota membagikannya kepada kami. “ Selamat siang semua!!!!” teriak kami kepada para tamu tamu itu ketika mereka menghampiri kami. Sambil tersenyum mereka menyapaku dan bertanya “ kok nggak sekolah ?” kami terdiam semua, bahkan lusiana yang sudah kelas enam juga diam, bukan karena kami malu atau minder tapi kami tidak mengerti apa yang dia tanyakan dan apa maksudnya dengan “nggak” , serentak tamu tamu itu tertawa ….kemudian diulang pertanyaan itu oleh salah seorang yang lain dari rombongan itu, “ tidak sekolah ko?” langsung kami semua serentak menjawab “ sudah pulang ibu..” ibu yang terakhir bertanya ini lebih ramah dan baik, kulitnya juga hitam sama seperti kami.
Kemudian mereka mengajak kami berpoto bersama, tetapi naekmuti itu tidak ada yang mau menyentuh stef atau bere , kasian mereka. “Senyum ya” kata ibu yang ramah tadi, saya, rombongan pulang sekolah saya, pak andre, bapak kepala desa, mamak dan tiga orang tamu naekmuti berfoto. Saya menjadi tidak bisa senyum, hanya heran kenapa saya mesti diam begini, mau di buat apa kami . Tapi saya dan teman teman saya menjadi tertawa dan teriak senang ketika ibu yang membawa poto tadi menunjukkan gambar kami..waahhhhh…. “ ini digital camera namanya, jadi begitu di poto, gambar kita langsung ada di dalamnya” jelas pak andre dengan sabar ke kami menggunakan bahasa kami, mungkin agar tidak malu dengan tamu tamu itu.
Ibu yang baik hati dan ramah itu masuk ke dalam mobil sebentar kemudian keluar lagi menghampiri kami, membagikan gula gula itu. Tentu saja kami langsung berebutan mengambilnya.
Sementara teman temannya yang lain masih bicara sambil berdiri dengan bapak desa, rupanya bapak desa menjelaskan tentang sirih pinang ke tamu tamu tadi, ada beberapa yang mencobanya dengan tangan manis sekali kemudian “wueek..” mereka lansung memuntahkannya, “ wah, rasanya mual ”kata mereka.. “ya pasti lah” pikirku, itu kan bukan rokok berwarna putih dari kota yang kata pak andre harganya mahal. Saya langsung ingat ba’i[4] yang meninggal setahun lalu karena penyakit mencret, cinta kedua ba’I adalah sirih pinang setelah saya.
Akhirnya mobil mereka pun melaju, tangan mereka melambai lambai kepada kami seperti ratu ratu dijaman dulu yang naik kuda… dari cerita nenekku.
Kami melihat mereka sampai mereka menghilang…. Baru kami meneruskan perjalanan kami pulang kerumah, tapi pikiran saya tidak berhenti bercerita; “ibu dan bapak yang datang tadi sangat indah dipandang, cantik dan ganteng, senyum mereka selalu melihatkan gigi yang putih, mereka juga berbicara dengan lancar dan menggunakan bahasa yang banyak saya tidak mengerti, mereka terlihat pintar dan banyak uang, Mereka terlihat bahagia. Tapi kenapa mereka terlihat seperti wisata ke desa saya…”
Saya juga tidak tahu siapa mereka. Yang jelas malam hari saya tidak dapat tidur memikirkan mereka.. “Mama ikun ingin seperti ibu yang datang ke rumah bapa desa tadi siang, yang memakai kacamata hitam“ kata saya ke mama malam itu.
Sejak siang itu, sepulang sekolah saya selalu berhenti di rumah pak andre, meminta pak andre bercerita tentang ibu yang memakai kacamata hitam dan rambut panjang tadi.

[1] Orang berkulit putih dalam bahasa dawan di daerah itu, biasanya di berikan untuk orang jawa yang berkulit putih ataupun orang asing .
[2] Seperti DAM, tempat penampungan air hujan. Dibangun kira kira selebar 60 meter, biasanya digunakan untuk pengairan pertanian.
[3] Laru = dari sari air buah enau yang muda di potong disimpan dan diramu. Sopi = laru yang dimasak lagi, diambil air yang benar benar mendidih ( uap ) dan kemudian disaring. Minuman beralkohol tradisional yang dibuat masyarakat setempat. Laru atau sopi bias berasal adri buah enau atau kelapa.
[4] Kakek

3 komente:

toni ahmad tha...

aku jadi teringat sewaktu bekerja untuk posyandu dan TK2 di Sikka dulu...
tapi aku ga pernah mengucap 'enggak' atau memakai baju yg glamour...
karena aku tidur dan makan bersama mereka di desa.
Btw... its good idea to share the story here...

Anonim tha...

Hasil karyamu bagus non tapi aku baru baca sore ini,wah kamu semakin kaya akan bahasa dan budaya nasional, diawal aku tidak begitu paham akan istilah - istilah yang kamu tulis, tapi setelah liat ampe bawah ada penjelasan yang sangat membantu, tapi kasih tahu donk dari mana asalnya bahasa itu,maklum aku belum pamilier.Imajinasimu sangat bagus bgt,ini bakat terpendam pa dari contekan he ehe he eh he he, smoga bakat dan karyamu bisa ditinggalkan untuk anak cucumu seperti harimau mati yang meninggalkan belangnya.Sukses yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Tita_r tha...

mbak...it's a lesson i've been forgetting a long time. Ya, aku juga tidak pernah nyaman dengan turis-turis yang berlabel NGO itu. Semoga tidak satupun dari kita akan menjadi seperti itu.