e martë, 12 shkurt 2008

Mencintai, Membutuhkan dan Pengorbanan (Cerpen)

Krrrriinggg…Krrrriiiinnggg …bergegas aku berlari keluar dari kamar mandi, mengambil handphone yang tergeletak di bawah kolong tempat tidurku. Ku coba meraih raihnya. Sementara deringnya sangat mengganggu konsentrasiku untuk masuk kedalam kolong berbau liur dan keringatku itu.Yups…akhirnya kudapat telepon genggam itu. Kuletakkan lekat ditelingaku telpon itu, karena begitu besarnya harapanku pada suara diseberang sana
“Halo….” Kataku , “……….”, “halo,..”. Masih kebingungan aku mencari cari suara diseberang sana, sementara aku mulai kedinginan karena tubuhku yang basah hanya berselimut handuk dekil.
Setelah hampir dua menit aku menunggu suara keluar dari nomor telpon yang tersembunyi itu, huuufhh..frustasi, akhirnya kututup telponku.

“Kesal….Kesal…..Kesal….”, Sambil ku ketik huruf huruf di notebook tuaku, mengharap seseorang yang ku ajak bercerita diseberang sana, bisa mengerti suasana hatiku. “Hahahhaa” dia hanya menjawab dengan tawa , tanpa ada komentar dari ketikannya. Tiga tahun ini lelaki ini mengisi hari hariku, tempat aku jengkel, mual dan menumpahkan segala isi perutku. Oh ya, yang perlu diketahui adalah aku baru sekali bertemu dengannya. Setelah itu dia berada jauh tanpa kuketahui dimana, yang tidak memungkinkan kami untuk bertemu lagi. Kami biasa bicara bicara lewat dunia maya… tanpa disadari aku bertanya-tanya tentang apa yang kurasakan ke dia. Kalau orang jawa bilang “witing tresno jalaran soko kulino..” yah itulah yang mungkin kurasakan. Sejak aku masih dengan lelaki kutu kupretku, sampai berganti kutu kupret yang lain sampai sekarang aku masih sendirian, hidup jauh dari dia dan di peradaban yang lain. Menurutku, justru disaat aku tidak mempunyai lelaki kutu kupret -shoulder to cry on- itu , aku membutuhkannya lebih dari sekedar teman bercerita di dunia maya.
Terkadang dia diam..entah tidak mengerti dengan ceritaku atau karena mulai muak dengan celotehanku yang lama lama tidak jelas. Kadang tanganku gemetar menyentuh huruf huruf di laptop ku, ketika aku harus menanggapi ceritanya tentang perempuan.

Malam itu, aku tak dapat memejamkan mata ku, entah kenapa. Mungkin karena sudah lima belas kali handphone ku berbunyi tanpa ada jawaban dari sapaan halo ku. Sampai akhirnya kuputuskan untuk mematikan handphoneku. Ini sudah kejadian yang kesekian kalinya. Sama halnya dengan gambar bunga dan puisi cinta yang setiap hari jumat kuterima di alamat emailku. Malam itu, kunyalakan laptopku ditengah gelap lampu kamarku dan suara lolongan anjing diluar. “Buzz..” terkejut aku ketika dia mengagetkanku dengan sapanya.
“belum tidur..?” tanyanya…..bla bla bla bla, kamipun bercerita…. OMG aku merasa kecanduan dengan sapanya.

Tiga tahun setengah kira kira aku kenal dia… Tiga tahun telepon yang hanya mendengar suaraku itu terus menganggu, walau berganti ganti nomor adalah hobiku. Tiga tahun puisi mesra yang datang ke alamat emailku menyapaku selalu.Tiga tahun, aku tidak pernah mendapat jawaban siapa dia, sampai akhirnya rasa penasaranku habis. Dan menjadi biasa.
Dua tahun, tepat hari ini tepat aku menjauh ke peradaban yang baru ini. Berarti tepat sekian lamanya, aku memendam perasaanku dan tidak bertemu dia.
Satu hari kuterpaku di kursi taman kota sore itu. Di bawah pohon yang teduh, kulihat penjual jamu, tukang koran dan gelandangan melanjutkan hidup mereka. “ Hey..” sapanya dalam senyum manis meminta ijin untuk dapat duduk disampingku.. kamipun bercerita tentang banyak hal, tetang lelaki maya yang mengisi hari dan hatiku dan tentang lagu lagu 40th yang dinyanyikan pengamen di depan kami.
Sudah tepat setengah tahun yang lalu kejadian itu. Kini ku putuskan menanti waktuku dengan lelaki yang kuharapkan tidak kutu kupret ini. Menangis dan tertawa berbagi segalanya dengan dia dan menghargai setiap bentuk kasih sayang yang dia berikan, walau sederhana bentuknya tapi aku suka!
Sementara penantianku dengan lelaki maya dari ujung seberang berhenti. Seiring dengan berhentinya puisi puisi cinta di alamat emailku, seirng berhentinya telpon telpon yang hanya ingin mendengarkan suaraku. Seiring berhentinya sapanya dimalam, pagi dan siang hari di chat roomku. Aku merasa jauuh sekali dengan dia sekarang, bukan karena aku telah memilih, tapi karena akhirnya aku tau dia membunuh cintanya ke aku dengan membenciku, sampai akhirnya aku tahu cintanya padaku tak sebesar perasaan yang kupendam ke dia, tak sebesar penantian yang kulakuakan ..karena cintanya tak sebesar rasa dewasanya untuk mewujudkannya ke aku….

Bercerita dengan lelaki yang mengisi hari hariku sekarang. Dengan kesederhanaan bahasanya. Bukan kata cinta yang dia punya, tapi segala pengorbanan dan perhatiannya membuat aku berani mengejawantahkan bahwa dia cukup dewasa untuk butuh aku!

Nuk ka komente: