e mërkurë, 2 prill 2008

from ikun point of view ( sebuah cerita pendek dari masa lalu )

Kalau diingat lagi saya bahkan tidak terlalu akrab dengan namnya waktu itu. Saya bergabung dengan salah satu International Non Government Organization, Kali ini adalah kunjungan pertama saya tempat program di implementasikan. Dia termasuk satu dari banyak rekan kerja di LSM yang saya temui waktu itu – tapi saya tidak dapat mengingat kapan saya kenal dan “paham” tentang dia pertama kali, Maklum waktu itu banyak orang yang harus saya hafal namanya. Oh ya untuk selanjutnya saya sebut dia tamahome. Nama ini diberikan teman saya sebagai kode kami. ( tamahome = tokoh kartun di serial komik yang pernah kami baca )
Saya ingat waktu itu saya berada di hotel di salah satu kota di ujung pulau, pagi pagi buta saya harus terbangun karena teman sekamar saya harus kelapangan. Terpaksalah saya harus bangun pagi itu- mencuci muka dan gosok gigi. Dengan tetap bercelana pendek dan t shirt yang saya kenakan ketika tidur, saya keluar untuk menemui dia yang menjemput teman saya untuk berangkat kelapangan. Dari situlah saya tahu sedikit tentang dia. Pagi itu ketika saya keluar kamar dan menemui dia untuk ngobrol sebentar tentang program atau sekedar basa basi dengan rekan kerja. Sepertinya dia kaget melihat saya yang begitu berbeda dengan penampilan ketika saya bekerja, atau saya masih ileran waktu itu..hehhehe.
Jangan tanya saya dari mana kemudian kami dekat. Yang jelas waktu itu kami sering saling sms an dan telpon telponan. Keadaan ini berlangsung lama, sampai entah apa namanya saya merasa nyaman telpon /sms dan bersamanya. Sebenarnya hubungan kami cukup aneh, segalanya kami bagi lewat telpon. Hmm….. senang rasanya kalau ingat saat itu, tiap kali ktia kesal kita bisa bercerita, tiap kali butuh teman ada yang sms… meski pulsa telpon harus membengkak hingga ratusan ribu, tapi tak pernah menjadi masalah buat kami karena kami merasa sangat nyaman. Jika ingat sekarang, kadang berfikir kenapa waktu itu suka telpon lama lama ya…catat: Hubungan ini rahasia!sehingga frekuensi pertemuan kami sangat sangat sangat minimal, bisa dihitung dengan jari!
Saya tidak mau melibatkan siapapun dalam cerita saya ini, Jika mengingat hal itu lagi, biar segala kesalahan ditumpahkan ke aku dan dia saja. Sampai satu pagi saya mencari dia selama dua hari. Tak biasanya dia tak tampak kabarnya seperti ini, perasaan saya sangat gelisah dan takut terjadi sesuatu kedia. Dua hari kemudian, terduduk saya tak tau harus berbuat apa. Seorang sahabat datang memberi kabar, jika dia akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang mantan pacarnya yang telah dihamilinya! ( jika refleksi lagi sekarang, aku bersyukur sangat singkat mengenalnya dan jarang bertemu dia, aku diselamatkan!). Kalau aku boleh menggambarkan rasa yang tidak dapat diungkapkan adalah : sesak nafas, sepeti kejatuhan UPS.
Entah mengapa hubungan kami tak dapat dihentikan, meski putus dan nyambung terus bahkan sampai dia telah mengikatkan diri sekalipun. Yang menjadi pembelaannya waktu itu adalah, dia menikah karena terpaksa. Tak tau apa yang terjadi dengan aku, sepertinya mata dan telingaku tertutup kata katanya, aku percaya! Tapi hubungan kami hanya berlangsung lewat telp dan sms saja, tak pernah bertemu. Hanya kami saling bercerita tentang apapun.
Aku memutuskan berhenti berkomunikasi dengan dia setelah aku kembali mendalami tentang hak hak anak. Mungkin itu hikmah aku dikirim ke lembaga yang focus pada anak. Sekarang waktu telah berlalu dia menjadi cerita yang akhirnya bisa kutulis. Beberapa waktu lalu saya sempat bermain ke tanah yang sama seperti yang dia injak, tapi tak sedikitpun terbesit untuk bertemu dia, entahlah rasa itu menjadi tawar sama sekali. Saya menghargai perasaan saya ke dia waktu itu tapi pengalaman hidup membuat saya tahu makna mencinta, dan orang orang yang layak saya kasihi.

Nuk ka komente: